Kuliner Legendaris Betawi yang Kaya Rasa
Kerak Telor merupakan salah satu sajian khas Betawi yang telah lama dikenal sebagai bagian dari identitas kuliner Jakarta. Hidangan ini bukan sekadar makanan tradisional, tetapi juga simbol dari kehidupan masyarakat Betawi tempo dulu.
Cerita kerak telor berawal dari masa perkembangan kota Jakarta pada era kolonial, ketika masyarakat Betawi mulai mengolah bahan-bahan seperti beras ketan, telur, dan kelapa menjadi makanan yang lebih tahan lama dan mudah disajikan. Dari kebiasaan inilah lahir kerak telor, yang kemudian berkembang menjadi salah satu jajanan khas yang sering hadir dalam berbagai perayaan dan acara kebudayaan di Jakarta sejak awal abad ke-20.
Kerak Telor Pak Ahmad mempertahankan cara masak tradisional yang menjadi ciri utama hidangan ini. Prosesnya dimulai dari beras ketan yang dimasak bersama telur ayam atau telur bebek, kemudian ditambahkan ebi sangrai, bawang goreng, dan bumbu rempah seperti kencur, jahe, kunyit, serta kelapa sangrai. Semua bahan tersebut dimasak perlahan di atas wajan kecil dengan bara arang, menciptakan aroma smoky khas yang menjadi daya tarik utama kerak telor.
Yang membuat kerak telor begitu unik adalah teknik memasaknya. Setelah adonan setengah matang, wajan dibalik menghadap bara api sehingga bagian bawahnya menjadi “kerak” yang renyah. Proses ini bukan hanya menghasilkan tekstur yang khas, tetapi juga menjadi atraksi tersendiri bagi penikmat kuliner yang menyaksikan langsung proses memasaknya di depan mata.
Dalam setiap suapan, kerak telor menghadirkan perpaduan rasa gurih dari kelapa sangrai, aroma kuat dari ebi, serta lembutnya telur dan ketan yang menyatu menjadi satu kesatuan rasa. Hidangan ini sering dianggap sebagai comfort food khas Betawi yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga membawa nostalgia pada suasana Jakarta tempo dulu.
Kerak Telor Pak Ahmad akan menjadi salah satu sajian yang hadir dalam Kampoeng Tempo Doeloe 2026 di Summarecon Mall Kelapa Gading, yang berlangsung pada 14 Agustus - 27 September 2026 dengan tema “Lokarasa Nusantara”.
Dalam festival tahun ini, kerak telor tidak hanya hadir sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai pengalaman budaya yang menghidupkan kembali suasana Jakarta tempo dulu.